WINE SALAK OLEH-OLEH DARI BALI

Produk olahan dari salak Bali digemari turis, tapi masih sulit memasarkannya.

Kendati digempur buah impor, posisi buah salak sebagai buah lokal belum tergeser. Apalagi salak bali. Daging buahnya yang tebal, manis, dan sangat digemari oleh konsumen dalam dan luar negeri. Sayangnya, petani salak tak bisa menikmati kelezatan buah itu sepanjang tahun. Sebab, ketika panen raya tiba, harganya anjlok total.

Panen raya terjadi pada Januari-Maret. Sedangkan panen jumlahnya lebih kecil ketimbang panen raya terjadi pada Agustus-September. Pernah cuma dihargai Rp 700 per kilogram, kata Nengah Dana, pemilik perkebunan salak seluas 2,5 hektare di Desa Sibetan yang merupakan sentra perkebunan salak di Bali yang terletak 15 kilometer dari Kota Karangasem.

Keluhan senada dilontarkan oleh Nengah Karsia, juga pemilik kebun salak. Soalnya, di luar masa panen, harganya jauh lebih tinggi. Pada bulan Mei ini, misalnya, harga bisa mencapai Rp 10 ribu per kilogram bahkan Rp 30 ribu per kilogram untuk jenis salak gula pasir, kata Kelian Banjar Dukuh Sibetan itu.

PRODUKSI WINE SALAK
Urusan harga inilah yang membuat Dinas Perindustrian dan Perdagangan Karangasem turun tangan. Mereka memberi pelatihan kepada petani untuk membuat produk olahan seperti dodol, sari buah, selai, wine, keripik, dan manisan. Selain itu, petani juga mendapat bantuan peralatan dari Yayasan Kehati yang diketuai Emil Salim dan Dinas Pertanian Provinsi Bali.

Dari semua produk olahan itu, yang paling laku di pasaran adalah wine salak, sejenis minuman berkadar alkohol. Pembuatan wine salak ini tak sulit, tapi butuh waktu lama. Lebih dari satu tahun sampai siap dikemas. Bahan bakunya: buah salak, gula pasir, ragi roti, dan asam nitrat untuk menambah keasaman rasa wine.

Sebelum direbus selama 15 menit, salak dibersihkan, kemudian ditiriskan, diblender, dan dicampur dengan air rebusan, kemudian disaring. Selanjutnya, ditambah gula dan direbus lagi hingga mendidih.

Kemudian, membuat larutan stater. Bahan bakunya yakni: salak, air, dan gula. Proses pembuatannya sama dengan larutan pertama. Cuma, setelah dingin, larutan stater ditambah ragi dan difermentasikan selama dua jam. Kedua larutan itu pun dicampur dan difermentasi selama dua minggu.

Setelah masa fermentasi, larutan itu direbus hingga mendidih. Kemudian dimasukkan putih telur dengan perbandingan satu putih telur untuk lima liter. Selanjutnya, memasuki proses penuaan selama satu tahun atau hingga larutan tersebut bening. Selama masa penuaan itu, larutan disaring sebulan dua kali agar endapan hilang.

Berbeda dengan produk olahan seperti dodol dan selai yang diproduksi berdasarkan pesanan karena tidak tahan lama, wine bisa diproduksi setiap saat. Karena semakin lama disimpan, hasilnya makin bagus, kata Nengah Dana, Ketua Kelompok Tani Dukuh Lestasi yang memproduksi wine salak.
Tapi lantaran belum mendapat izin dari Dinas Kesehatan dan Perdagangan, produk itu belum banyak beredar di toko-toko besar di Bali. Izin tersebut dibutuhkan lantaran minuman tersebut berkadar alkohol 5-10%. Pemerintah meminta kadar alkoholnya kurang dari 5%. Tapi itu bukan wine lagi, melainkan sari buah biasa, tutur Nengah Dana.

Toh, wine salak ini bisa dibeli di koperasi desa dan di pasar tradisional. Setidaknya, ada saja turis yang membeli. Sebelum tragedi bom Bali, wine jenis ini bisa laku 50 sampai 80 botol per bulan, dengan harga Rp 20 ribu per botol berukuran 330 mililiter. Sekarang cuma sekitar 30 botol per bulan, kata Nengah Dana.

WISATA AGRO SALAK
Kesulitan pemasaran produk salak olahan, termasuk wine, inilah yang membuat petani mendukung rencana Pemerintah Kabupaten Karangasem untuk mengembangkan kawasan agrowisata salak. Pilot project-nya adalah Dusun Dukuh, Desa Telaga, dan Sibetan. Selain menjadi sentra produksi makanan olahan, di Sibetan juga tumbuh 15 jenis salak, plus pemandangan laut yang indah, kata Ida Nyoman Djelantik, Kepala Dinas Pariwisata Karangasem.

Tak berbeda dengan agrowisata lainnya semisal agrowisata apel di Batu, Malang para pengunjung bebas memetik dan memakan buah salak selama di lokasi. Mereka pun akan disuguhi minuman dan snack yang terbuat dari salak. Suvenirnya pun berupa produk-produk olahan tersebut. Semua akan dikelola masyarakat, pemerintah hanya memfasilitasi, kata Djelantik.

Namun, proyek di atas lahan seluas 40 hektare yang penataan fisiknya dimulai sejak 1996 itu, hingga kini belum rampung. Padahal, sudah menelan biaya hampir Rp 700 juta yang diambil dari pos APBD Karangasem. Maklum, selain kawasan wisata, pembangunannya juga termasuk infrastruktur. Tak ada investor yang berminat membantu. Mereka biasanya baru masuk jika fasilitas sudah memadai, kata Djelantik.

Jauh-jauh hari, calon investor sudah diwanti-wanti tak boleh membangun penginapan setaraf hotel. Para tamu akan berbaur dan menginap di rumah masyarakat atau sejenis pondokan yang dibangun dengan swadaya masyarakat. Ini untuk menjaga kelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi rakyat, kata Djelantik.

Tapi jangan khawatir, pengunjung tetap akan disuguhi atraksi kebudayaan lokal yang tak kalah dengan kelas hotel.

(From : www.majalahtrust.com)

~ oleh panahanti86 pada 8 Juni 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: