Kiamat 2012?

Ramalan Bencana: Meresahkan namun Tak Berdasar

Catatan: Ahad, 22 Februari 2009, SCTV menayangkan acara “Kasak-Kusuk” tentang Kiamat 21 Desember 2012. Ada aspek sains yang diisi wawancara dengan Kapus Sains Antariksa dan Peneliti antariksa dari LAPAN, namun isinya terpenggal dan diambil sisi sensasinya saja tentang potensi dampak aktivitas matahari maksimum 2011 – 2012 dan dampak kepadatan sampah antariksa yang meningkatkan potensi tabrakan satelit. Gambar-gambar ilustrasi cuaca antariksa dan tabrakan satelit dijadikan ilustrasi bencana antariksa. Lalu bagian dominan adalah ramalan Ki Gendeng Pamungkas dan Mama Lorent tentang bencana 2012. Kata Ki Gendeng, akan ada beberapa gunung meletus dan dan beberapa kejadian tsunami dalam waktu satu tahun itu. Mama Lorent mengatakan tidak dapat menerawang melebihi tahun 2012 yang menggiring kesan pemirsa seolah dunia berakhir 2012. Salah seorang anak indigo (dengan ramalannya yang tak kalah bikin resah) ditampilkan dan dikaitkan dengan manusia super yang mungkin akan menggantikan generasi manusia sekarang. Dua ulama yang ditampilkan tampaknya juga hanya diambil bagian komentarnya yang sejalan dengan tema kasak-kusuk: kiamat. Para artis ditampilkan sebagai bumbu dengan beragam komentar khas artis.

Lalu, bagaimana sains memandang ramalan tentang bencana atau kiamat 2012? Sejauh prakiraan saintifik, tidak ada fenomena alam yang mengkhawatirkan. Ramalan bencana yang mengakhawatirkan semacam itu sempat juga beredar menjelang tahun 2005. Bahkan ada ramalan bahwa 5 Mei 2000 (05-05-00) adalah saat terjadinya kiamat. Kini ada juga yang menyebut angka istimewa 21-12-12 sebagai hari kiamat. Terkait dengan ramalan yang meresahkan itu, berikut ini tulisan lama saya menjelang 05-05-00 yang lalu. Sebelumnya saya juga menulis di Republika 9 April 1995, “Astronomi Membantah Astrologi”.

Bedakan Astronomi dan Astrologi

T. Djamaluddin Peneliti  Antariksa, LAPAN Bandung

Orang awam kadang tidak bisa membedakan antara astronomi dan astrologi. Secara mudah kadang keduanya difahami sebagai ilmu bintang. Padahal jelas sekali bedanya, terutama dalam hal tafsir atas suatu fenomena langit. Nah, soal tafsir inilah yang sangat rawan dalam menimbulkan keresahan. Orang awam kadang tidak bisa membedakan mana tafsir astrologi dan mana tafsir astronomi.

Astrologi adalah ilmu yang mempelajari pergerakan planet, bulan, matahari, dan bintang-bintang yang diyakini berkaitan dengan nasib manusia, baik secara individu maupun masyarakat. Sedangkan astronomi adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisik, kimiawi, dan evolusi benda-benda langit tanpa kaitan dengan nasib manusia saat ini. Pokoknya bila fenomena alam dikaitkan dengan nasib, itu pasti bukan tafsir astronomi, mungkin tafsir astrologi. Mitos tentang kaitan kemunculan komet dengan pergantian raja atau bencana atau kaitan gerhana dengan nasib calon bayi di kandungan bukanlah tafsir astronomi. Kepercayaan itu terkait dengan astrologi.

Masih ingat geger ramalan bencana 5 Mei 2000 lalu? Fenomena astronomi pengelompokan matahari, bulan, dan lima planet terang pada 5 Mei 2000 telah menghangatkan berita media massa dengan ramalan adanya bencana. Bencana tidak terjadi. Tetapi, ada satu hal penting yang luput dari perhatian awam: berita media massa telah mencampuradukkan fenomena astronomi dengan ramalan astrologi.

Istilah superkonjungsi tidak dikenal astronomi, tetapi hanya ada dalam terminologi astrologi. Konjungsi dalam pengertian astronomi adalah posisi dua benda langit yang segaris bujur dalam penampakannya di langit. Dalam bahasa hisab, dikenal ijtimak untuk konjungsi bulan dan matahari. Pada saat itu terjadi bulan baru dan mungkin juga terjadi gerhana matahari. Secara astronomi mustahil terjadi konjungsi yang melibatkan lebih dari dua benda langit.

Namun dalam pengertian astrologi, konjungsi tidak harus segaris bujur. Ada toleransi (disebut “orb”) antara 8-9 derajat, mungkin juga lebih. Karenanya pengelompokan dua planet atau lebih dalam sektor geosentik yang sempit sering dianggap konjungsi. Bila melibatkan banyak planet disebut superkonjungsi.

Tafsir Astrologi

Secara astrologi, pengaruh paling kuat benda-benda langit pada kehidupan manusia di bumi adalah pada saat terjadi konjungsi tersebut. Ramalan bencana 5 Mei 2000 akibat superkonjungsi sepenuhnya hasil tafsiran astrologi, bukan astronomi. Ramalan bencana alam atau bencana sosial, dilakukan oleh cabang astrologi yang disebut astrologi duniawi (mundane). Cabang astrologi ini memfokuskan perhatian pada pengaruh benda-benda langit pada kondisi bangsa, partai politik, serta aset-aset tak hidup (bangunan, kendaraan). Astrologi populer yang berkaitan dengan watak seseorang dan ramalan nasibnya (disebut astrologi natal), juga memperhatikan masalah konjungsi tersebut.

Di Indonesia pada tahun 1995 seorang tokoh paranormal risau dengan perhitungan astrologinya yang menyatakan posisi planet Uranus dan Neptunus dalam keadaan segaris. Katanya, keadaan ini bisa menyebabkan adanya chaos, kekacauan di alam dan masyarakat. Ramalan tentang chaos pada tahun 1995 didasarkan pada informasi astrologi bahwa  planet Saturnus-Uranus (pada bagian lain berita disebutkan Uranus-Neptunus) berada pada posisi segaris yang berlangsung selama lima tahun. Menurut data astronomi pernyataan itu tidak benar. Tahun 1995 ketiga planet itu tidak berada pada posisi segaris. Hanya planet Uranus dan Neptunus yang berdekatan, tetapi tidak segaris (berbeda sekitar 5 derajat). Planet Saturnus dan Uranus berada pada posisi segaris dengan matahari pada tanggal 9 Juni 1988 pada bujur 268o55′. Dan planet Uranus dan Neptunus berada pada  posisi segaris dengan matahari pada tanggal 21 April 1993 pada bujur 289o16′. Namun nalar astrologi berbeda dari argumentasi astronomi.

Tahun 1974 John R. Gribbin and Stephen H. Plagemann menerbitkan buku “The Jupiter Effect” yang meramalkan bakal terjadinya bencana pada tahun 1982 akibat berkelompoknya semua planet pada satu sektor yang sama. Memang pada saat itu semua planet dari Merkurius sampai Pluto berkumpul pada sektor dengan rentang 95 derajat, sektor paling sempit selama abad 20. Kemudian sekitar tahun 1997-an Richard Noone mempublikasikan buku “5/5/2000 Ice: the Ultimate Disaster” yang bercerita tentang ramalan bencana pada 5 Mei 2000. Tulisan Noone inilah yang tampaknya mewarnai cerita-cerita di media massa tahun lalu.

Ramalan astrologi mundane yang paling terkenal adalah karya Nostradamus. Dengan nama asli Michel de Nostradame (1503-1566), Nostradamus yang pernah menjadi dokter istana Raja Perancis Charles IX mempublikasikan bukunya “Les Centuries” pada 1555. Banyak peristiwa besar dikaitkan orang dengan ramalan Nostradamus, seperti perang dunia I dan II serta perang teluk Irak-Kuwait yang diduga bisa memicu perang dunia III.

Kepanikan massa akibat berita yang menyesatkan tentang segarisnya planet-planet pernah terjadi pada tahun 1962. Pada superkonjungsi 4 Februari 1962 (5 Februari waktu Indonesia) orang-orang berkumpul di Observatorium Griffith (Los Angeles) menunggu informasi apa yang akan terjadi. Mobil berderet hampir satu kilometer. Berita sensasional juga berkembang di Amerika pada tahun 1982. Superkonjungsi 1982 dikabarkan akan menghancurkan pantai barat Amerika dan memusnahkan jutaan orang. Bencana itu tidak terjadi, tetapi sekian banyak orang dibuatnya ketakutan dengan ramalan itu. Bahkan ada yang meminta nasihat astronom perlu tidaknya pindah ke daerah lain. Planetarium Denver menerima 130 telepon dalam lima jam dari orang-orang yang ketakutan.

Pada 1998 ramalan Nostradamus juga sempat merepotkan para astronom di Observatorium Griffith. Setelah penayangan  film “The Man Who Saw Tomorrow” yang bercerita tentang Nostradamus, banyak orang menelpon observatorium menanyakan kapan terjadinya planet-planet segaris yang akan menyebabkan gempa. Ternyata gempa memang tidak terbukti terjadi.

Tafsir astrologi tentang fenomena astronomi sering mengundang sensasi. Dengan makin mudahnya penyebaran informasi bila tanpa disertai rasionalitas berfikir, di negara maju sekali pun ramalan-ramalan bencana seperti itu cukup membuat panik banyak orang. Tidak tampaknya dampak sosial di Indonesia terhadap ramalan-ramalan bencana tersebut belum tentu berarti masyarakat telah berfikir rasional, tetapi mungkin karena penyebaran informasinya tidak seluas di negara-negara maju.

Tafsir Astronomi

Superkonjungsi dalam terminologi astronomi lebih tepat disebut pengelompokan planet-planet dalam suatu sektor tertentu. Pengelompokan planet-planet pada 5 Mei 2000 lalu telah dihitung oleh Jean Meeus, pakar matematika astronomi dari Belgia,  yang menuliskannya dalam majalah astronomi Sky and Teleskop (1961). Berkelompoknya matahari, bulan, dan 5 planet utama lainnya (dalam konsep lama semuanya dianggap planet) dalam rentang 100 tahun sebenarnya telah terjadi pada  5 Februari 1962 dan 5 Mei 2000, kemudian akan terjadi lagi pada 9 September 2040.

Dari segi astronomi, tidak ada hal yang istimewa dengan berkelompoknya planet-planet tersebut.  Mungkin satu-satunya hal yang menarik adalah bila kejadiannya malam hari. Pengelompokan banyak planet dalam satu wilayah langit yang sempit sangat menarik bagi penggemar astrofotografi. Selain hal itu, sama sekali tidak ada alasan logis yang bisa menjelaskan mekanisme kaitan antara susunan planet tersebut dengan bencana di bumi.

Ada tiga hal yang perlu dikaji sebelum menyimpulkan dampak benda langit pada bumi: efek pasang surutnya, radiasinya, dan pancaran partikelnya. Efek pasang surut (pasut) sudah kita kenal akibat gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan air laut pasang dan surut secara periodik. Radiasi matahari berdampak besar pada bumi, baik dalam kaitannya dengan komunikasi radio maupun fenomena cuaca dan iklim. Bila ada peningkatan radiasi energi tinggi dari matahari, komunikasi radio gelombang pendek bisa terputus. Pancaran partikel dari matahari berupa angin matahari atau debu komet berdampak pada satelit-satelit yang mengorbit bumi.

Adakah tiga hal tersebut terjadi bila planet-planet berkelompok? Efek pasut planet-planet amat sangat kecil dibandingkan dengan efek pasut bulan dan matahari.  Dengan memperhitungkan massa planet dan jaraknya pada suatu waktu, dapat dihitung gaya pasutnya di permukaan bumi. Matahari saja yang sekitar 27 juta kali massa bulan, gaya pasutnya pada 5 Mei 2000 hanya sepertiga gaya pasut bulan. Efek pasut matahari baru terasa pada saat bulan baru atau bulan purnama, ketika gaya pasut bulan dan matahari saling memperkuat yang menyebabkan pasang air laut menjadi lebih tinggi daripada biasanya.

Sedangkan efek pasut planet-planet sangat kecil. Gaya pasut yang terbesar saja dari planet Jupiter, hanya dua-per-sejuta kali gaya pasut bulan. Jadi efek pasut planet-planet tersebut sama sekali tidak berdampak pada bumi.

Planet-planet pun tidak memancarkan radiasinya sendiri. Radiasi dari planet-planet tergantung pancaran radiasi matahari. Demikian juga tidak ada pancaran partikel dari planet-planet yang mencapai bumi. Jadi, sama sekali tidak beralasan untuk mengaitkan pengelompokan planet-planet dengan bencana di bumi. Sama halnya tidak beralasan mengaitkan penampakan komet dan gerhana dengan nasib manusia.

From : t-djamaluddin.spaces.live.com

~ oleh panahanti86 pada 7 Oktober 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: